Bintang Sangak

admin

KISAH (Dialogmasa.com)-Bintang Sangak, bintang sangak, e langek  bedeh bintang sangak,” derap-derap kaki terdengar riuh mengiringi teriakan itu. Aku menoleh spontan, bersama  beberapa tetangga yang sebelumnya asyik menyaksikan televisi di rumah, mereka segera beranjak mengikuti arah suara. 1999 tepatnya, di rt 08 desa Kasturi. Kebetulan hanya rumahku yang memiliki tv, sehabis isya’ sudah menjadi ritual rutin, para tetangga berkumpul di rumah untuk menyaksikan serial/sinetron.

“bintang sangak, bintang sangak,” teriakan itu terdengar bertubi-tubi.

Semua orang di dalam rumah sudah berhambur keluar, terburu-buru menengadahkan kepala menatap langit di halaman. Aku pun juga, badan kecil bukan penghalang untuk menyusup di kerumunan orang dewasa. Sok tahu, sok penasaran. Ku sapu langit dengan kedua bola mata, namun yang ku dapat hanya bintang bertaburan, serabutan, indah, tak sempat ku jumpa sembilan bintang yang tadi disorakkan.

Kenapa teriak bintang Sembilan? Memangnya ada apa dengan sembilan bintang di langit? Usiaku masih lima tahun kala itu, terlalu dini untuk memaknainya. Hanya terdengar sayup-sayup mereka bersorak bahwa salah satu partai politik akan mengibarkan bendera kemenangan, partai PKB katanya, dan satu hal lagi yang paling terdengar jelas, mereka terus menyebut Gusdur akan jadi presiden.

Pak Parmin, dengan segenap hati mengangkat lengannya, menunjukkan lokasi sembilan bintang yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ada beberapa warga yang sempat menyaksikan, dan sebagian yang lain hanya mengelus dada kecewa, tidak sempat bersua dengan penampakan sembilan bintang. Namun hal itu tak menjadi penghalang kegembiraan yang terpancar di wajah masyarakat desa, seakan ada kabar baik yang mereka terima.

###

Tak terasa kejadian itu sudah 20 tahun yang lalu. Tak banyak yang ku tahu, mengapa waktu itu masyarakat begitu antusias dengan sosok Gusdur? Yang paling ku ingat hanyalah, pada masa itu bulan puasa adalah masa yang indah, karena presiden meliburkan sekolah selama satu bulan. Sangat berbeda dengan kebijakan presiden sebelum dan sesudahnya, libur sekolah rata-rata hanya dua minggu. Dan dengan susah payah kami harus menahan lapar sambil menyerap pelajaran.

Setiap kali puasa, setiap kali itu pula, terdengar desas-desus ‘lebih enak zaman Gusdur, liburan selama puasa’. Ya, ku rasa memang betul, selanjutnya tak ada lagi presiden yang memberikan kebijakan seperti Gusdur. Ah, mereka tak sepengertian Gusdur.

Bintang Sembilan? Aku mulai mengerti setelah beranjak dewasa, mengapa waktu itu orang-orang meneriakkan bintang Sembilan. Ternyata itu adalah simbol Nahdlatul Ulama yang didirikan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, kakek dari KH. Abdurrahman Wahid alias Gusdur. Iseng, ku cari artikel di Google tentang fenomena sembilan bintang yang dulu menjadi pertanda terpilihnya Gusdur sebagai presiden. Namun sayang, yang ku temukan hanya artikel-artikel lain, seperti sejarah PKB, kisah Gusdur, dan do’a sapu jagad di tanah suci dll. Hmm, mungkin hal itu hanya terjadi di tempatku saja. 

Siang ini rasanya gerah sekali. Ingatan tentang bintang Sembilan tadi menyibukkanku. Sudah beberapa hari terakhir hujan tak lagi menyapa bumi, padahal bulan Desember. Deres-deresse sumber, kata orang Jawa. Tapi ya sudahlah, mungkin Allah punya rencana lain. Meski pada dasarnya aku sangat berharap air langit segera membasahi bumi, setidaknya bisa sedikit mendinginkan isi kepala yang lagi pening dan panas karena tugas. Belum lagi teringat dengan perkataan saudaraku semalam. Ah, mengapa ini harus terjadi dengannya? bukan saudara kandung memang, aku bingung menjelaskannya, intinya dia masih punya hubungan keluarga denganku, dari jalur ayah. 

Semilir bayu menghembus pelan, ‘terimakasih Allah’ batinku, karena sudah menghadirkan angin yang menyejukkan. Sengaja, aku duduk  seorang diri di gazebo sebelah fakultas agama Islam, tampaknya disini begitu tenang, teman-temanku sudah menghambur keluar, entah pergi bersama teman-temannya, atau pulang ke kediaman masing-masing, aku menolak saat di ajak bareng, alasannya, ya seperti biasa, sedang mencari wahyu alias inspirasi, rasa-rasanya mereka sudah hapal benar kalau aku sudah berkata demikian itu tandanya aku ingin sendiri.

Sudah setengah jam aku menunggu, aku sudah membuat janji bertemu, dengan siapa lagi kalau bukan dengan saudara yang meresahkanku? Ku ajak ia bertemu karena kami ingin meluruskan perdebatan semalam, tidak puas rasanya jika putus di tengah jalan. Sambil menanti, ku tulis kerangka karangan yang akan ku jadikan cerpen nanti, hanya saja cerpen ini istimewa, bukan cerpen berbahasa Indonesia, tapi cerpen berbahasa Arab, maklumlah karena aku mengambil jurusan ini.

Ku lihat rumput di sekeliling, tampaknya sudah mulai bersemi lagi, aku tersentak ada tangan yang menyentuh bahu, sontak kepalaku menoleh. Ya, Mas Irfan, saudaraku, setelah empat puluh dua menit menunggu akhirnya ia datang menepati janji.

“ Hai bunga, kaget ya..” sapanya dan mantap mengambil duduk di depanku.

“ Oalah mas, kirain siapa, sudah setengah jam lo bunga nungguin, kirain gak jadi,”

“haha, ya nggaklah tadi macet, jadi agak lama nyampek ke kampusmu, nih aku bawa minum,”

Ia menyodorkan minuman pulpy ke arahku, kebetulan sekali, aku memang haus. 

“terimakasih mas,” ku sambut pemberiannya dengan rasa haus yang sudah tak tertahan. 

Kami mengobrol basa basi sejenak, mencairkan suasana, bercerita tentang kelucuan-kelucuan yang terjadi dirumahnya, bibi yang sering bertanya tentang gadget, ataupun typo-typo yang sering membuat mereka salah paham. Kami tertawa lepas.

“Oya mas bagaimana kelanjutannya tadi malam?” tanyaku memulai, karena sudah tidak sabar ingin segera meluruskan pandangan saudaraku yang menurutku begitu kolot.

“ya gitu dik,” begitulah panggilan akrabnya untukku, kami memang selisih tiga tahunan, lebih tua mas Irfan, makanya kadang manggil bunga, kadang manggil dik, terserahlah, suka-suka dia.

“yah gimana dik ya, aku sih tetap dengan pendapatku, bahwa kita tidak perlu mengucapkan selamat Natal kepada umat kristiani, toh mereka juga tidak masalah dengan hal itu,” 

“lah, tetangga mas yang Kristen itu? Apa gak pernah ngucapin selamat waktu Idul Fitri atau Idul Adha?” tanyaku kembali. Tadi malam kami sempat berdebat tentang film Islam yang menurutnya kontroversial karena ada adegan santriwati membawa tumpeng ke dalam gereja, dan menurutnya itu sangat tak patut dilakukan, kami berperang dalil dan argumen, hingga larut malam dan kantuk menjeda komunikasi kami di Watshap, karena belum selesai itulah, paginya langsung ku hubungi untuk bertemu. 

“Ya ngucapin sih, tapi kan itu hak mereka, mungkin di aqidah mereka tidak ada aturan seperti itu, beda dengan aqidah kita, masak ia kita setuju dengan Tuhan Yesus, mengucapkan natal, kan juga berarti kita setuju dengan Tuhan mereka.”

Suasana mulai serius, aku terdiam sejenak.

“mas tahu Gusdur?” tanyaku

“ ya tahu bangetlah”

“mas pro dengan beliau?”

“ya setuju, memangnya kenapa?”

“Jadi mas tidak pernah tahu, kalau Gusdur pernah menulis “Harlah Natal dan Maulid” yang ditulis di Yerussalem?” tanyaku, menggali, barangkali mas Irfan sudah pernah tahu tentang itu.

Ia menggeleng.

“ Dengarkan mas, intinya di dalam tulisan Gusdur itu, jika ku tarik kesimpulan  mengucapkan selamat Natal bukan berarti kita setuju dengan Tuhan Yesus mereka, natal hanya peringatan kelahiran, bukankah nabi kita juga diperingati kelahirannya? Kenapa harus khawatir dengan aqidah jika hal itu semata-mata hanya untuk menjaga kerukunan antar umat beragama, memanusiakan manusia, analoginya jika ada temen kita yang mengatai kita ‘monyet’ misalnya, tidak lantas kita menjadi monyet kan? Atau ‘hei wedus’ misalnya, tidak lantas kita menjadi weduskan? Nah sama halnya dengan ucapan itu, masak iya hanya karena mengucapkan selamat natal kita menjadi kafir karena sudah dianggap meyakini Tuhan mereka, nggak kan mas?”

Mas Irfan terlihat mencerna kalimat-kalimatku, ada rasa heran disana. 

“masak iya dik, Gusdur kayak gitu” kilahnya, yang merasa tak percaya, ada kilas ingin mendebat di raut wajahnya, namun terlihat bimbang karena memang sejatinya ia adalah santri yang sami’na wa ato’na. 

“Iya mas, coba deh dalami lagi tentang Gusdur, kalau mas memang gak percaya, Gusdur itu tauhidnya tinggi lo mas, masak sih kita yang ecek-ecek ini sok-sok’an punya pendirian, padahal gusdur sendiri lebih memilih mengucapkan selamat natal untuk menghormati agama lain.”

Sebelum Mas Irfan mencari-cari celah, ku sodorkan langsung buku ‘Ajaran-ajaran Gusdur’.

“aku ingin mas mengkhatamkan buku ini” tegasku, sambil tersenyum, aku ingin menutup perselisihan siang ini, melapangkan fikiran dan mencoba belajar secara luas tentang banyak hal, terutama tentang Gusdur. Seorang Presiden Nyeleneh yang pemikiran-pemikirannya kontroversial di masa itu, namun terbukti sangat dibutuhkan dan terjadi di masa sekarang, seorang presiden yang pernah menolak UU pornografi karena beranggapan Negara tidak mengurusi Agama, seorang presiden yang begitu terkenal dengan humornya, seorang presiden yang kemenangannya ditandai dengan Sembilan bintang berjejer di langit. 

Sekilas, dahi mas Irfan berkerut. Ku raih tas, memilih pergi dan melambaikan tangan padanya. “Da..” ucapku.

Oleh: Wardah

Catatan: (Karya ini pernah terbit di Buku Hujan Gusdur)

Tags

Postingan Terkait

Tinggalkan komentar

×