Kiyai Abdul Karim, Wali Sepuh Kramat Pengenal NU di Pasuruan

admin

PASURUAN (dialogmasa.com) – Kabupaten Pasuruan kaya tokoh ulama’ karismatik bahkan waliyullah yang telah berjasa mengajarkan islam di Pasuruan.

Hasil kerja keras mereka dapat dirasakan hari ini di mana julukan kabupaten Pasuruan adalah kota santri dan berdiri didalamnya puluhan bahkan ratusan pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam.

Makam mereka menjadi opsi wisata religi karena menjadi tempat ziarah masyarakat dari dalam maupun luar kabupaten Pasuruan.

Salah satu tokoh sepuh, waliyullah, penuh karomah, ialah kiyai Abdul Karim bin Toyyib bin qodiy Kramat kraton Pasuruan.

Diantara jasa nyatanya ialah mengenalkan NU di Pasuruan hingga sepeninggal nya yaitu pada tahun 2023 ia dianugerahi piagam penghargaan sebagai salah satu tokoh yang berjasa mengenalkan NU di Pasuruan.

Pendiri Pondok Pesantren Kramat ini pernah menempuh pendidikan di Makkah mukarromah bahkan sampai mengajar di sana dan memperoleh julukan Abul Ihya’ lantaran beliau sangat menguasai di luar kepala isi dan muatan kitab ihya Ulumuddin karya imam Ghozali.

Selain di Makkah kiyai Abdul Karim juga pernah belajar di tebu ireng Jombang di era kiyai Hasyim Asyari, dan disebut-sebut sebagai murid pertama kiyai Hasyim Asy’ari.

Banyak sekali Kisah-kisah tentang keistimewaan dan Karomah kiyai Abdul Karim, diantaranya ;

1. Al kisah Kiyai Abdul Karim sebagai sosok yang tidak pernah mau di foto, bahkan bila dicuri untuk difoto secara diam-diam, maka hasil fotonya selalu rusak.

2. Kisah lain tentang kebesaran kiyai Abdul Karim, bahwa romo yai Hamid Pasuruan sang waliyullah ketika datang ke pondok Kramat, dari jauh sudah melepas alas kakinya sebagai wujud hormat kepada kiyai Abdul Karim selaku gurunya.

3. Dikisahkan dari KH. Munif, bahwa ketika KH. Abdul Karim bepergian naik dokar bersama-sama, tiba-tiba dokar yang beliau naiki akan ditabrak oleh mobil truk tangki. Spontan truk itu beliau (Kiyai Abdul Karim) tangkis dengan tangannya sehingga truk itu berhenti, dan pada truk itu tampak jelas bekas telapak tangan beliau saat menghentikannya.

Meski kebesarannya menjulang ke langit kiyai Abdul Karim melakukan aktivitas hidup layaknya manusia biasa. Beliau juga bertani, juga mengajar, juga mendatangi undangan warga, dan lain-lain.

Jurnalis: Ali

Editor: WJ

 

Postingan Terkait

Tinggalkan komentar

×