Kuliah Itu Penting atau Tidak Penting?

admin

OPINI (dialogmasa.com) – ‘Kuliah itu tidak penting!’ Mungkin ada sebagian teman-teman yang berpikiran demikian. Kalimat ini bisa benar bisa salah, tergantung untuk siapa dan bagaimana mengarahkannya. 

Dulu saya juga sempat berpikir ‘Kuliah itu tidak penting’, masih lebih penting isi, daripada nama panjang dengan gelar namun hampa, tanpa substansi. Masih lebih baik tanpa gelar, namun ilmu dan kemampuan bisa dipertanggung-jawabkan. Setelah kuliah, ternyata memang betul, kuliah itu tidak niscaya. sebab, bukan kuliahnya yang kita butuhkan, namun kemampuan dan gelarnya.

Di zaman ini, disamping kita harus berpengetahuan, juga butuh pada gelar. Sebab, kita hidup di zaman di mana masyarakat sudah banyak yang mengukur kemampuan dan kematangan seseorang dengan melihat gelarnya. Terbukti, beberapa pihak yang membela Amin dan Pragib di MK semua adalah sarjana lulusan kuliah, bukan pesantren. Gelar di bidang hukum menjadi penilaian tersendiri bagi seseorang yang hendak membela pihak tertentu di pengadilan.

Begitupun di beberapa lokasi, masyarakat mulai ada yang menilai jika ada suatu pengajian “gelar ustadznya apa?”

Lalu untuk apa itu gelar ?

Jika suatu perdebatan atau sidang, apapun itu sengketanya, hanya didampingi orang ahli hukum yang minim spiritual, tak memiliki pengetahuan agama yang cukup, maka dia bisa saja dengan kemampuan silat lidahnya beserta kemahirannya menafsirkan hukum sesuai selera, ia bisa saja memenangkan yang salah walaupun kenyataannya tidak bersalah.

Begitu juga, jika kepercayaan masyarakat hanya pada ustadz yang bergelar (apapun gelarnya), sementara pada lulusan pesantren yang kemampuannya terhadap hukum agama lebih bisa dipertanggung-jawabkan, melalui manhaj talaqqi dan merujuk pada sumber yang asli. Bukan hasil kerja kelompok karena tuntutan PR, itupun mencomot dari internet, maka ladang dakwah akan diisi oleh mereka-mereka yang hanya punya gelar tanpa pemahaman yang benar, disamping juga job lulusan pesantren menjadi terganggu gara-gara tak bergelar.

Saya teringat dawuh KH. Abdurrohman Navis LC yang kurang lebih seperti ini, “Santri ini andaikan pembalap sudah Valentino Rosi, namun saja belum punya SIM”

Ada pula pihak yang berpikir, “apa gunanya gelar kalau ilmunya tidak ada”. Ya memang kurang gunanya, namun perlu diingat, bagaimana juga meloloskan kemampuannya di institusi tertentu kalau dia tak ada gelarnya. Tentu, semua ada pengecualian.

Gelar tidak begitu dibutuhkan bagi orang yang sudah bisa melambung tinggi tanpa gelar, seperti putra tokoh besar, yang gelarnya tak bisa dicari di kampus, namun pemberian masyarakat dengan kepercayaannya. Itupun kalau dia tidak mau terjun ke Institusi yang menyaratkan gelar. Gelar tak begitu dibutuhkan kalau hanya mau menekuni guru ngaji atau pengajar Madrasah.

Gelar juga tak begitu perlu bagi seseorang yang kemampuannya jauh di atas orang yang layak gelar disandangkan padanya. Ya kira-kira seperti Buya Hamka yang mendapatkan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar di Mesir dan Universitas Kebangsaan Malaysia, KH. Sahal Mahfuzh, yang mendapat penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang pengembangan ilmu fiqh serta pengembangan pesantren dan masyarakat pada 18 Juni 2003 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau semua bergelar, namun gelar itu pemberian akademik, bukan melalui kuliah namun karena kemampuannya jauh diatas orang-orang bergelar.

Masih banyak pengecualian lain, tinggal dicari sendiri. Silahkan, Anda di bagian yang ingin bagaimana.

Oleh: Zein Arief/Nama pena dari M. Zainul Arifin, jurnalis santri alumni Sidogiri yang kini masih aktif kuliah di UNU Pasuruan. 

Postingan Terkait

Tinggalkan komentar

×