Membangun Madrasah Digital, CEO Aksaramaya Paparkan Strategi Pemanfaatan Teknologi Buatan Dalam Pendidikan

admin

PASURUAN (dialogmasa.com) – Seminar pendidikan bertajuk “Membangun Madrasah Digital Melalui Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan” digelar di MAN IC Pasuruan, Rabu 10 Juli 2024.

Acara ini menghadirkan CEO Aksaramaya dan Founder Digital Library, Sulasmo Shudarmo, sebagai narasumber utama, dan diikuti oleh 1.100 peserta dari madrasah-madrasah di bawah naungan Kemenag Kabupaten Pasuruan.

Dalam sambutannya Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Santoso, menunjukkan fakta kecenderungan anak dalam belajar, “Anak-anak kalau disuguhi bacaan sulit lebih milih HP. Tapi kalau disandingi makanan jadi mantap,” ujarnya.

Santoso juga mengaku senang karena momentum ini telah mengumpulkan banyak pihak terutama pemangku kebijakan terkait pendidikan di kabupaten Pasuruan, “Jika berkumpul dengan banyak pihak yang punya kewenangan di dunia pendidikan maka tidak akan selesai-selesai karena sangat menyenangkan.”

Ia juga mengingatkan pentingnya memahami batasan dalam mengabdi kepada masyarakat, “Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh bapak ibu, jangan sampai niat baik kita mengabdi kepada masyarakat kemudian dipermasalahkan, maka harus tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh,” ujarnya.

Santoso mengapresiasi panitia yang telah menghadirkan pihak terkait seperti kepolisian dan bidang digital, dengan harapan ini akan bermanfaat dan menciptakan perubahan.

Dalam paparannya, Sulasmo Shudarmo menjelaskan pentingnya transformasi digital dalam dunia pendidikan. Ia mengibaratkan transformasi digital seperti pernikahan, yang awalnya menakutkan namun sangat bermanfaat setelah dijalani. Menurutnya, teknologi kecerdasan buatan (AI) adalah salah satu kunci dalam membangun madrasah digital.

“Kita telah melewati berbagai macam teknologi seperti Windows, Google, Facebook, machine learning, YouTube, dan kecerdasan buatan. Namun, kita seringkali terpapar tanpa sempat mempelajarinya secara mendalam,” ujar Sulasmo. Ia menekankan bahwa semua teknologi tersebut merupakan kumpulan data yang dirancang untuk memudahkan manusia.

Sulasmo juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap kecerdasan buatan. “Kecerdasan buatan sama seperti anak yang kita ajari. Diajari bicara, ayah, ibu, melakukan ini dan itu sampai anak itu menangkap dan faham,” jelasnya. Ia mencontohkan bagaimana mesin kecerdasan buatan dapat diajarkan untuk melakukan tugas-tugas sederhana melalui proses data training.

Meski demikian, Sulasmo menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan peran emosional dan moral yang dimiliki oleh guru. “Pekerjaan-pekerjaan akan digantikan oleh kecerdasan buatan, hanya satu yang tidak digantikan yaitu perasaan. Di situ madrasah punya peran penting karena madrasah tidak hanya mengajari anak tapi juga membimbing,” ungkapnya.

Dalam menghadapi transformasi digital, Sulasmo menguraikan beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu kebijakan, perubahan mindset tenaga pendidik menjadi mindset digital, memilih proses yang paling siap untuk didigitalisasikan, dan investasi. Ia juga menyoroti tantangan penggunaan teknologi di sekolah, khususnya terkait larangan penggunaan HP oleh siswa saat belajar.

“Kita sudah tidak perlu berpura-pura dan menghindari bahwa faktanya kita sudah tidak bisa menghindari HP. HP memiliki banyak manfaat jika digunakan sebagaimana mestinya,” kata Sulasmo. Ia menekankan pentingnya madrasah dalam memberikan bimbingan kepada siswa tentang pemanfaatan HP untuk belajar.

Kemenag Kabupaten Pasuruan menginginkan seminar ini dapat memberikan wawasan baru bagi para pendidik dalam mengimplementasikan teknologi kecerdasan buatan di madrasah, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi era digital. (Ali/WJ)

Postingan Terkait

Tinggalkan komentar

×